
Senin, 15 Juli 2024 kembali terlaksana kegiatan MPLS yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Hari pertama diawali dengan pengecekan perlengkapan peserta dan sembahyang bersama di Jaba Pura Dalem. Kemudian peserta diarahkan menuju aula untuk mengikuti acara pembukaan MPLS yang diisi dengan laporan ketua MPLS dan PLT Kepala SMAN 2 Kuta, serta penyematan name tag yang diwakilkan oleh dua perwakilan—satu putra dan satu putri. Acara dilanjutkan dengan pembagian materi mengenai tata krama siswa, visi misi, ekstrakurikuler, materi kurikulum merdeka, program sarana prasarana, program kerja wakil kepala sekolah bidang hubungan masyarakat serta materi mengenai digitalisasi sekolah. Acara dilanjutkan dengan kegiatan dinamika kelompok. Saat diwawancarai, Ni Made Puspita Maharani selaku pengurus OSIS sekaligus Ketua panitia mengatakan bahwa persiapan dari kegiatan MPLS membutuhkan waktu sekitar 1 bulan lamanya. Mulai dari persiapan kepanitiaan, hingga persiapan runtutan acaranya Hari kedua MPLS diisi dengan pemberian materi mengenai pentingnya cinta dan bangga terhadap mata uang rupiah dan materi mengenai PPKSP (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan Satuan Pendidikan) oleh bapak Oktavianus Randrastya Subana. Ia mengatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia saat ini sudah lebih baik namun pelaksanaannya saja yang belum maksimal karena budaya pendidikan di Indonesia dari zaman dahulu sudah berkonsep pendidikan yang “menggurui”. Menurut pendapat Pak Randra pelaksanaan yang kurang maksimal yang dimaksud dapat terjadi karena dua pihak yakni antara guru dan siswa karena dari pihak guru memberikan kebebasan siswa untuk mengeksplorasi dunianya sendiri cukup sulit karena siswa lahir dari sistem pendidikan yang lama ditambah lagi ada beberapa siswa memiliki orang tua di rumahnya yang juga menggunakan sistem “menggurui” dimana siswa tersebut harus mencapai target tertulis seperti angka serta harus ternilai dengan suatu variabel. Orang tua seharusnya sudah paham mengenai metodologi pendidikan di masa sekarang dan jangan sampai memberikan tuntutan kepada anak-anaknya begitupun dengan pendampingan hal lain. Sistem pendidikan yang agak longgar saat ini diperuntukkan siswa agar tidak takut untuk mencoba hal-hal yang baru bukan untuk mencari kesempatan berbuat hal yang tidak diinginkan dan tidak takut dengan gurunya. Hingga akhirnya karakter-karakter bangsa seperti sopan santun, bertanggung jawab malah menjadi luntur padahal kuncinya ada disana, ujarnya. Pada hari kedua pula para guru dan pegawai SMAN 2 Kuta memperkenalkan diri serta tugas yang diemban kepada peserta MPLS. Kegiatan kemudian ditutup dengan dinamika kelompok. Kamis, 18 Juli 2024 terlaksana kembali kegiatan MPLS setelah terjeda hari raya Pagerwesi. Kegiatan dimulai seperti hari sebelumnya dan diisi dengan penyampaian materi oleh Genre Badung, materi bahaya narkoba oleh BNN serta materi gerakan sekolah sehat oleh tim GSS dan TKSI. Agus Artagama selaku ketua panitia mengaku bahwasanya pihak sekolah telah mempertimbangkan sebaik-baiknya susunan acara serta narasumber dari luar. Hal ini dilakukan agar peserta didik baru dapat memperoleh ilmu yang sebaik-baiknya. Beliau juga menegaskan bahwa perancangan acara tak luput dari andil para pengurus OSIS yang lebih memahami bagaimana era sekarang dan bagaimana kebutuhan siswa siswi di era sekarang untuk dapat beradaptasi dengan baik. Kadek Priskilla Elisabeth Dwi Reza, sebagai salah satu pengurus OSIS mengaku pihaknya perlu melakukan banyak persiapan serta mengalami banyak kendala terutama dalam penyusunan rundown. Acara kemudian ditutup dengan penampilan yel-yel serta permainan estafet tepung. Hari keempat diawali dengan pertunjukan yang sangat memukau dari paskibra CAKRA dan Marching Band Bahana Swara Sundari. Kegiatan dilanjut dengan penjelajahan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di halaman tengah. Peserta kemudian diarahkan menuju aula untuk menaruh harapan pada pohon ketapang. Rampung sudah kegiatan MPLS SMAN 2 Kuta yang ditandai dengan pemberian surat untuk para pengurus OSIS dan pemberian penghargaan kepada putra putri terbaik serta pembagian hadiah kepada setiap gugus. Okta Citra dan Agung Ariva terpilih sebagai putra putri terbaik pada MPLS tahun ini. Okta Citra mengatakan bahwa ia dan Agung Ariva dapat terpilih menjadi putra putri terbaik selama MPLS karena mereka aktif dalam menjawab pertanyaan dan berperilaku yang baik serta tidak melanggar tata tertib.Okta mengungkapkan bahwa hari ketiga MPLS merupakan hari yang paling melelahkan karena hari tersebut merupakan hari pelatihan yel-yel oleh masing-masing gugus. Gugus Okta yakni gugus Pavo memerlukan waktu latihan yang cukup lama karena anggota dari gugus tersebut sulit diatur. Okta berharap dengan penghargaan yang diraihnya dapat memotivasi dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan dan dapat mengharumkan nama sekolah. Riva juga mengatakan bahwa hari yang melelahkan menurutnya adalah hari ketiga. Riva mengajak semua siswa untuk tetap aktif dalam berbagai kegiatan meskipun mereka merasa memiliki pengetahuan yang terbatas.






